Tech News

SELAMAT DATANG DI MOTIVASI AKH HERU, BLOG PENUH MOTIVASI DAN INSPIRASI. INSYAALLAH BERMANFAAT

Senin, 17 Agustus 2015

Perspektif Moral


Moral menurut pandangan sebagian orang adalah hal yang lumrah. Namun apa sebenarnya makna dari moral itu sendiri? Banyak orang yang beranggapan bahwa moral adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sopan santun. Hal yang tidak bertentangan dengan aturan. Sesuatu yang seharusnya diikuti dan dijadikan sebagai social controler. 

Tidak ada yang salah memang, semuanya benar menurut pandangan masing-masing dan cara menyikapi makna dari kata tersebut. Sebuah kata terkadang memuat sebuah cerita di belakangnya. Begitupun dengan moral yang memang ada cerita di baliknya. Moral pada awalnya memang dianggap sama dengan etika baik secara makna bahasa, atapun makna harfiahnya pada masa kejayaan Yunani imperium awal, namun sejak era Aristoteles dengan bukunya yang berjudul Etika Nemachiea muncul, di mana dalam buku tersebut memuat beberapa hal yang berhubungan dengan batasan-batasan dalam bertingkahlaku maka di dapatlah sebuah kajian yang membedakan antara moral dan etika. Kalau di tulis secara ringkas moral adalah suatu aturan ataupun akhlak yang melandasi manusia dalam bersikap dan bertingkah laku. Sedangkan etika lebih mengarah pada studi pengkajian tentang moral dan seluk beluk yang ada di dalamnya.

Dari penjelasan singkat di atas, kiranya kita bisa menyimpulkan sendiri apa itu moral beserta konten yang ada di dalamnya. Untuk lebih jelasnya, maka kita akan belajar urgensi dari moral itu sendiri.
 Moral sebenarnya bukanlah hal yang diturunkan melalui gen ataupun bawaan lahir dari orang tuanya yang dulu. Kalaupun itu bawaan lahir, tidak mungkin akan ada seorang anak ustad yang bandel dan berbuat tidak senonoh. Kita sebut saja Almarhum Ust. Jefri Al Bukhari, dia adalah seorang ustad yang begitu mempesona karena dakwahnya, namun apakah di waktu mudanya dia juga seorang ustad? tidak, padahal kalau kita telusuri masuk akal. Coba tengok Almarhum Bapak Ismail, dia seorang yang baik, seorang alim yang pandai mengaji. Dari sini dapat kita satukan frame bahwa moral memang tercipa bukan karena gen, ataupun bawaan lahir, namun lebih tepat kita sebut dengan bawaan lingkungan dan pendidikan.

Kalau kita telisik lebih dalam lagi mengenai lingkungan akan sangat equal dengan apa yang telah tersuguhkan pada era 20-an ini. Moral sebenarnya sudah ada dalam tata kehidupan masyarakat secara umum, bahkan dalam kehidupan aal sebuah keluargapun sudah terselip nilai-nilai moral. Sudah jelas bahwa sebuah keluarga yang bahagia tidak akan mau dan tidak mengharapkan hadirnya seorang anak yang durhaka. Itu sudah jelas terinstal dalam benak seorang ibu dan ayah. Dan dari sini sudah barang tentu bahwa bagaimana cara dan membentuk lingkungan yang baik bagi si anak agar menjadi seorang yang berbaikti pada orang tuanya. Memang benar bahwa lingkungan berperan penting dalam proses perkembangan aktifitas dan perilaku, namun di balik itu semua terdapat wahana yang begitu urgen, bahkan bisa di katakan krusial dan mutlak perlu. Apakah itu? Pendidikan, ya, pendidikan adalah lengan utama yang akan memberikan suntikan awal dalam membentuk pribadi seseorang. Orang tua yang baik tidak akan pernah merelakan anaknya untuk tinggal diam dan berkecimpung di dunia jalan. Namun mereka pasti berharap agar mereka mendapat pendidikan yang baik untuk mengangkat anak itu sendiri dan keluarganya, karena pada hakikatnya, orang tua yang hidup di jalanan tidak menginginkan anak yang seperti dirinya, tidak rela untuk bersusah payah seperti yang di lakukannya. Namun mereka terus berharap dan mendidik agar anaknya menjadi seorang yang sukses dan tahu akan apa yang akan di lakukannya di masa depan.

Sebuah ironi memang ketika kita menilik sebuah kehidupan yang penuh dengan aturan, penuh dengan nuansa keilmuan, namun di dalamnya terselip beragam tindakan asusila yang melanggar hak dan moral itu sendiri. Sekolah, Lembaga pendidikan, Pelatihan Kerja, dan lain sebagainya. Gedung-gedung itulah yang sekiranya menjadi objek dari apa yang saya maksud. Sekolah memang awalnya bertujuan untuk mencerdaskan dan memberi pendidikan pada masyarakat umum, dan melahirkan The Future Golden Generation ( Generasi Emas masa depan). Ketika kita kaitkan dengan nilai moral, pastilah yang namanya pendidikan akan memeberikan icon dan item terbaik bagi pada terdidik, agar nantinya mereka dapar mewarisi moral dan berbagai batasan-batasan yang seharusnya menjadi pertimbangan dalam mengarungi samudra kehidupan.

Ya, pada awalnya memang seperti itu, namun coba kita lihat perkembangan dari lembaga itu dari masa ke masa. Pada abad ke 1 Masehi, moral dan etika dalah hal yang sangat berharga dan di junjung tinggi, lambat laun dan terus berkembangnya manusia dengan kecerdasan dan Quation-nya mereka mengolah sistem tersebut menjadi sebuah ladang bisnis, lambat laun kemudian berkembang menjadi lahan pencucian otak, bergerak lagi berubah menjadi suatu perserikatan, yang meluas, yang bahkan mendunia. dan kini, setelah kesemuanya itu terjadi, tanpa ada batasan dan filter, bahkan setelah berkembangnya dunia inter-comunication semuanya sudah berubah, semuanya telah berbeda. Moral yang seharusnya menjadi dorongan utama pemantik sebuah keberhasilan dan kesuksesan kini di era 20-an telah berpaling pada ketidakjujuran dan ketidaksenonohan. Moral menjadi hal yang tabu dan sudah ketinggalan zaman. Hakikat keterikatan dan keterkaitan makhluk dengan pencipta sudah tidak tersentuh lagi.

Moral pada sebagian orang memang sangat urgen yang bahkan sangat mutlak perlu, namun di sisi lain moral pun dianggapnya sebuah hal yang lumrah dan tidak perlu mengikutinya. TItulah yang terjadi pada era ini. Memang apa yang di sebut sebagai kearifan hati sudah tidak dapat terbukukan dalam setiap jiwa yang belum tersadarkan akan pentingnya sebuah moral. Baik moral ke-Tuhanan, dan moral kesusilaan. Kenyataan sudah berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya terwujudkan. Namun apa daya, persepsi dan ideologi telah membutrakan segalanya. Segala keteraturan dan ketentuan telah termaktub di dalamnya, seorang hanya aturanlah yang menjadi orang tua bagi setiap dari kita. Paradigma dan dogma menjadi sebuah hal yang sudah biasa, yang bahkan masyarakat awam pun sudah tidak peduli lagi akan kehadirannya. Mereka sudah bosan dan lelah bertahan dalam himpitan krisis moral, mereka sudah lelah bertarung melawan tirani angkara murka.

Moral yang telah tergadaikan dalam dunia materi membuat seorang berbuat apa saja, dengan berbagai macam cara, tanpa memperdulikan mana yang baik, dan mana yang benar. Halal haram sudah terpupuk menjadi satu entah apa jadinya, mereka yang mengalami sakit, sakit yang begitu dalam karena himpitan dan desakan moral yang berujung pada kejahatan dan kemaksiatan. Allah dianggapnya tidak melihat apa yang mereka kerjakan, kerusakan dan kehancuran terus terjadi, pengikisan dan pendegradasian pun tak luput darinya.

Sudah saatnya kita bangkit menggapai moral itu kawan, sudah saatnya kita rebut kembali apa yang sudah mereka rebut, moral memang bukan segalanya, namun moral adalah apa yang akan membuat kita menjadi segala-galanya. Berawal dari moral yang didasari dengan akidah dan keyakinan pada Sang Maha Kuasa, kita dirikan lagi bangunan moral perubah masa depan, yang mampu melahirkan Golden Generation.

Oleh: Motivasi Akh Heru

Sumber: 
1. Pilar Islam Bagi Pluralism Modern
2. http://www/apapengertianahli.com/2015/05/pengertian-moral-dan-pengertian-etika-perbedaan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top