"Dalam kehidupan, tidak ada pilihan yang salah, yang ada adalah konsekuensi-konsekuensi dari pilihan tersebut"
Motivasi Akh Heru
Pada awalnya, jauh sebelum manusia di lahirkan di dunia ini, Allah telah menggariskan tata cara, proses, tanggungjawab, dan berbagai hal yang mendasari kita sebagai bekal untuk menjadi khalifah fil ardi yang mana amanah besar tersebut bukan karena suatu kesalahan ataupun sebuah kenistaan, namun apa yang telah terjadi pada kita kini merupakan apa yang telah Allah gariskan dan apa yang telah Allah tentukan, dalam sebuah catatan kehidupan di lauh mahfudz. Apapun yang kita lakukan nantinya, pastilah akan menghadapi sebuah pilihan, dimana setiap pilihan tersebut telah digariskan oleh Allah beserta akibat dan konsekuensinya. Maka ketika kita berpikir bahwa apapun yang kita dapat adalah ketentuan dari Allah, kaya miskin juga telah di takdirkan oleh-Nya, bahkan hidup dan matipun telah di gariskan oleh-Nya. Pernyataan tersebut memang benar adanya, namun tak semuanya harus kita tafsirkan demikian.
Cobalah kita pahami tulisan berikut ini. Ketika kita tersesat tak tau arah dan tujuan kemudian berhenti sejenak di perempatan jalan yang sama-sama sepi, kemanakah kita akan berbelok? Dalam hati kita pasti akan terbesit sebuah bayang untuk memilih satu jalan dari tiga jalan yang lain, apakah kita akan berbalik arah, ataukah kita akan berbelok ke salah satu jalan. Nah dari sini dapat kita kaitkan dengan takdir Allah. Ketika kita berbalik atau melangkah ke arah yang lain Allah telah menentukan takdir di setiap jalannya. Allah telah menentukan dampak dan konsekuensi dari seiap jengkal yang kita ambil dari pilihan tersebut. Kemudian kita kembali kepada sisi manusia. Pertanyaan yang muncul adalah siapa yang memilih? Apakah Allah yang meilihkannya, ataukah manusia itu sendiri yang memilihnya? Dari sudut pandang manusia saja akan terdapat cabang pilihan yang lain.
Cabang pertama adalah pemikiran yang berlandaskan logika dan analisa otak, cabang kedua adalah yang bersumber dari hawa nafsu, sedangkan cabang yang ketiga adalah yang berlandaskan hati dan bersumber dari Allah SWA. Manakah dari tiga pilihan tersebut yang kemudian akan manusia ambil? Ataukah akan menggabungkan antara pilihan satu dengan pilihan yang lain? Atau bagaimana? Coba saja kita bayangkan ketika semua pilihan manusia itu telah di tentukan dan telah digariskan oleh Allah. Bagaimana ketika semua kehendak dan keinginan kita telah di atur dan di tentukan oleh Allah. Bagaimana juga ketika setiap naluri kita di tentukan oleh Allah? Kemudian ketika kita kaitkan dengan setiap mimpi-mimpi dan cita-cita yang menjadi rujukan masa depan kita, dengan berbagai planing dan konseptualisasinya, apakah Allah juga yang menentukan? Lalu ketika kejahatan menguasai relung hati kita, dan menebar virus kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat, apakah Allah juga yang telah menentukannya? Ketika kita kaitkan semua hak dan kehendak kita sebagai manusia dengan kebebasan berfikirnya, dengan begitu luasnya jangkauan imajiner dan kreatifitas kita, apakah Allah membatasi semua itu? Satu hal yang paling krusial adalah apakah kita hidup di dunia ini telah Allah tentukan masuk surga atau nerakan-Nya? Tentukan jawabanmu sendiri.
Allah adalah penentu, Allah adalah yang mendasari, namun Allah juga yang melingkupi. Obsesi manusia yang begitu besar terhadap dunia melampaui kecerdasan emosional kita sendiri, membuat banyak orang lupa akan pemaknaan sebuah khalifah melupakan arti dan tujuannya di dunia yang serba kurang dan menjerumuskan. Setiap individu mempunyai hari dengan kepekaan dan kejelian yang berbeda, bahkan dalam masalah penggunaan dan pelibatannya dalam kehidupanpun kadang tak jarang orang mengacuhkannya, padahal kita tahu sendiri bahwa inti manusia yang sebenarnya terletak pada hatinya, pada jiwanya, pada perasaannya. Sekarang ketika kita bandingkan atara manusia yang melibatkan hati di setiap lapis kehidupannya, dengan manusia yang mengesampingkan hati dari kehidupannya.
Pada manusia yang memanfaatkan hati dalam setiap jengkal dan lapis kehidupannya, mereka akan selalu dan senantiasa meletakkan perasaan dan akalnya di depan lidahnya sebelum sebuah kata, atau bahkan sebuah hurufpun keluar dari lisannya. Pada manusia bertipe ini mereka memiliki kepekaan dan kesadaran vertikal dan horizontal yang jauh lebih baik di bandingkan dengan mereka yang hanya menggunakan akal dan okolnya. Mereka akan selalu memikirkan perasaan orang lain dibandingkan perasaannya sendiri, bahkan dia yang berhati seperti ini akan merelakan dirinya untuk berkorban demi kemaslahatan orang lain. Bayangkan ketika setiap orang yang ada di dunia ini memiliki perasaan dan jiwa yang suci dengan pengendalian diri jauh melampaui nafsu setan. Alangkah damai dan permainya mayapada ini.
Namun berbeda halnya ketika kita menelisik dan membedah sosok yang mengesampingkan hati dalam setiap inci kehidupannya. mereka akan menjadikan akal dan ilmu pengetahuan sebagai Tuhan atas kebenaran yang mereka anut. Kebaikan dan kedamaian yang mereka miliki hanya sebatas apa yang merekka bayangkan, dan mereka iamjinasikan. Apapun yang menurut mereka benar adalah apa yang bisa mereka buktikan dengan akal dan ilmu pengetahuan. Mereka yang bahkan tidak berhati, tidak segan-segan dalam membunuh dan merampas hak-hak manusia sebanyak dan sekejam apapun demi kemerdekaan dan kejayaan diri mereka sendiri. Kepekaan dan kejelian mereka terhadap yang lain bahkan tidak ada. kepentingan tertinggi adalah kejayaan diri mereka sendiri, lidah mereka sudah kelu dari kebaikan, pikiran mereka telah berakar kemunafikan, dan jiwa mereka telah ternodai oleh kefasikan. Astag'firullah. semoga kita tidak termasuk manusia yang seperti ini.
Semua takdir ada di tangan Allah, bahkan setiap bagian terkecil dari atom dan sel yang berdetak, berotasi dan berdentum memuja dan memuji menyebut asma-Mu, tidak akan pernah luput dari pengawasan dan perhitungan-Nya. Setiap yang ada di dunia berseru dan beribadah hanya untuk-Nya, berputar dan bergetar di hadapannya, tersungkur dan tertunduk di di pangkuan-Nya. Betapa besarnya kuasa-Mu atas segala sesuatu. Setiap kebenaran dan kebaikan hanyalah milik-Mu, maka apapun yang ada pada setiap jiwa adalah apa yang telah Engkau gariskan, sebagai akibat dari apa yang telah mereka pilih. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.



