Tech News

SELAMAT DATANG DI MOTIVASI AKH HERU, BLOG PENUH MOTIVASI DAN INSPIRASI. INSYAALLAH BERMANFAAT

Sabtu, 06 Februari 2016

Problematika Dakwah (Pola Kaderisasi & Penokohan)



Assalamualaikum.wr.wb.

Sebuah kebanggaan besar ketika kita mampu bergabung dalam lini dakwah kampus, di mana didalamnya berisikan segenap mahasiswa dengan berbagai basic dan karakter yang memberikan sentuhan warna yang unik untuk suatu bentuk Ukhuwah Islamiyah. Dakwah kampus merupakan salah satu media syiar yang cukup familiar di telinga para aktivis dakwah kampus, terlebih ketika kita berbicara mengenai piramida kaderisasi dakwah kamus, yang didalamnya membahas seabrek permasalahan baik dari para kader itu sendiri maupun dari calon kader yang akan di rekrut menjadi anggota, kemudian di bentuk atau di bina, hingga pada akhirnya akan di terjunkan untuk berdakwah di kampus dengan berbagai marhalah yang ada.

Berangkat dari prolog diatas, maka saya mencoba menganalisa problematika dakwah kampus yang kemudian saya juga akan memaparkan solusi atas problematika tersebut. Memang benar dalam dunia dakwah khususya yang berada di kampus yang notabene berisikan beribu-ribu mahasiswa dari berbagai golongan, gen, dan kebudayaan adalah sebuah tantangan besar, apalagi ketika di benturkan dengan adat istiadat yang kemudian masih melekat dalam darah daging mereka. Sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri ketika kita mampu menyatukan pemikiran dan mengerucutkan visi antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya dalam satu rumpun dakwah islamiah guna mencapai tujuan bersama yang kita namai dengan kampus madani.

Salah satu problematika yang paling sering kita jumpai dan temui dalam dunia dakwah kampus adalah pola kaderisasi yang seringkali terkendala pada masalah pengelolaan, baik itu pengelolaan data maupun pengelolaan kader yang mana akan mempengeruhi kualitas dan kuantitas kader itu sendiri. Permasalahan yang satu ini memang sangat kompleks dan pelu perencanaan yang sistematis untuk memaksimalkan terjaganya kualitas kader yang ada. Dalam hal inilah yang kebanyakan sering miss dari plan, bukannya tidak terencana dalam program, namun lebih kepada ketidakterlaksananya hal tersebut. Sudah banyak cara dan metode yang dipakai oleh para kader dakwah, mulai dari penjagaan kader dengan adanya pembinaan liqo’, kemudian ada pembinaan tasqif untuk mematangkan alur pemikiran dan menambah kafaah islamiyah, ada juga dengan rihlah untuk meberi nuansa ukhuwah yang tinggi, sehingga kesolidan tetap terjaga. Namun dari berbagai tahapan yang telah saya sebutkan diatas, masih ada saja kader yang lepas dan tidak ter-follow up-i dengan baik. Inilah yang menjadi permasalahan yang tidak kunjung usai dan terkesan menjadi masalah klasik yang memang sudah biasa terjadi.

Permasalahan seperti ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang remeh-temeh dan lumrah, justru hal itulah yang seharusnya menjadi bahan renungan bersama, bagaimana menciptakan sebuah sistem yang ideal untuk pola kaderisasi dakwah kampus ini, karena kita tahu tidak ada sistem buatan manusia yang sempurna. Untuk itu salah satu solusi yang mungkin bisa kita terapkan adalah dengan pembuatan renstra, baik jangka panjang maupun jangka pendek, sehingga goal setting yang hendak kita capai dapat terealisasikan dengan baik. Namun perlu diingat bahwa pembuatan renstra ini perlu melibatkan seluruh elemen perwakilan dakwah di semua lini kampus untuk menyatukan visi dan langkah gerak. Kemudian daripada itu untuk memaksimalkan kinerja dan ketercapaian tujuan bersama, maka dilakukanlah treatment dengan memberikan stimulus dalam bentuk perhatian dan kasih sayang antara ikhwan dan akhwat untuk menjaga tetap solidnya, (ini serius) sesuai yang diungkapkan oleh Ridwansyah Yusuf Ahmad dalam bukunya yang berjudul “analisis instan problematika dakwah kampus”. Memang betul bahwa stimulus seperti itu perlu dilakukan, dengan catatan tetap dalam koridor syariat. Memang terlihat lebih moderat karena memang kita harus terus bergerak dan melakukan manufer-manufer baru guna meledakkan virus-virus dakwah di kampus.

Setelah kita membentuk renstra maka langkah yang harus di lakukan adalah dengan membentuk item pola kaderisasi dalam serangkaian sistem dakwah kampus. Ini penting karena kadang walaupun rencana sudah ada dan tertata dengan sedemikian rapinya, namun tanpa ada pola yang pasti maka bentuk dari sistem yang akan kita bangun tidak akan baik dan berantakan tanpa ada batasan yang jelas. Ini akan membingungkan dan akan membuat sayap-sayap dakwah tidak dapat terkepak dengan baik, lebih dari itu ia tidak akan berfungsi dengan sebagaimana mestinya.

Terlepas dari hal diatas, untuk membuat pola kaderisasi yang jelas dan efektif untuk direncanakan, maka perlu adanya media yang pas, media disini dapat berupa serangkaian wahana untuk me-recharge berbagai hal yang diperlukan untuk meningkatkan dan menjamin terbentuknya fikroh seorang kader.

Dalam pembahasan pola kaderisasi ini saya tidak dapat memaparkannya lebih panjang lagi, mengingat masih begitu banyak hal yang perlu dibahas dalam waktu yang terbatas, dan dengan lembaran yang tidak banyak.

Problematika selanjutnya yang seringkali muncul adalah penokohan. Penokohan disini bukan bertujuan untuk mengangkat citra seseorang, bukan untuk mengangkat nama organisasi, dan bukan pula untuk menyombongkan diri. Namun penokohan disini lebih berafiliasi kepada kemenangan dakwah kampus yang berorientasi pada terbentuknya kampus madani. Penokohan kadang sering kita abaikan dan cenderung untuk lebih mengutamakan kaum dan organisasinya sendiri agar ukhuwah tetap terjaga, tidak mengarah kepada koridor lain, dan bisa lebih fokus dalam menjalankan program yang diusung. Memang itu benar dan bisa memaksimalkan kinerja sebuah organisasi dalam penuntasan program, hanya saja perlu diingat bahwa ketika kita hanya berorientasi pada internal kinerja organisasi maka ujung dari apa yang kita usahakan adalah respect dari kaum kita sendiri, dalam kata lain mahasiswa yang sudah terbina, dan sadar akan peran dari dakwah ini. Ini memang baik untuk internal kaum guna mengumpulkan mahasiswa yang berpotesi besar di bidang dakwah, namun ada satu hal yang kita lupakan, bahwa sasaran dakwah kita bukan hanya mahasiswa yang berpotensi dalam dakwah dan sadar akan pentingnya dakwah.

Target kader memang hal yang patut untuk di perhitungkan dan di pertimbangkan dengan matang untuk tercapainya program yang diusung. Namun kita juga tidak boleh lupa dengan siapa yang lebih butuh dakwah, dan siapa yang memang patut untuk lebih kita dekati. Dan mereka yang patut untuk mendapatkan asupan nutrisi dakwah lebih adalah mereka mahasiswa yang belum mengenal dan bahkan yang belum tahu sama sekali tentang dunia dakwah terlebih dalam lingkup kampus.

Penokohan akan sangat penting ketika kita sadar medan yang kita tempuh, karena dengan kita menokohkan seorang mahasiswa menjadi sosok yang supel, disegani, mempunyai posisi, dan mampu berbaur di semua lini, dengan tidak mengabaikan tujuan utamanya yaitu untuk berdakwah, maka sasaran dari dakwah itu akan ter-follow up-i dengan baik. Dengan begitu akan semakin besar kemungkinan untuk mencetak kader baru dengan melibatkan banyak mahasiswa yang belum tesentuh dakwah sama sekali menjadi seseorang yang mampu mendakwahi temannya dan seterusnya sehingga akan terbentuklah sebuah sistem sporadis yang tidak akan berhenti menyebarkan sporanya seperti virus yang terus berkembang dengan cepat, dengan catatan kita tetap dalam koridor syariat, dan istiqomah di jalan-Nya.

Mungkin tidak banyak yang dapat saya sampaikan, walaupun sebenarnya masih begitu banyak yang ingin saya sampaikan mengenai bagaimana berkomunikasi antara Korwan dan Korwat, kemudian bagaimana memanajemen dan menyeimbangkan antara kegiatan dakwah dengan kegiatan kuliah, dan masih banyak lagi. Namun mengingat keterbatasan kafaah yang saya miliki, dan kelemahan saya yang lainnya sehingga setiap detail dan inci berkas dalam otak saya tidak dapat terkemas dengan baik, maka dari itu saya mengucapkan beribu maaf dan Syukron Jazakumullah.

Wassalamualaikum.wr.wb.

Salam Motivasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top