
Kemunduran demi kemunduran akan semakin menggrogoti sendi-sendi perdamaian jika kita tidak segera memutus urat-urat yang terinfeksi oleh paham-paham dunia barat seperti sekularis dan liberalis. Strategi yang mereka gunakan sangatlah sistematis dan terstruktur, mereka dengan tatanan yang rapi menyusup ke dalam setiap jengkal kehidupan untuk melemahkan kebenaran dan mencabut nilai-nilai keagamaan dari akarnya, bergerak perlahan namun pasti, beradaptasi maksimal dan memporak porandakan. Itulah sedikit gambaran yang akan terjadi bila nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan terluput dari benak dan hati kita.
Indonesia sebagai negara muslim terbesar didunia saat ini menjadi sorotan utama bagi proyek besar yang dilakukan oleh dunia barat. Sebagai laboratorium penelitian, kini penduduknya bagaikan kumpulan buih yang terombang-ambing di tengah lautan, dimana mereka mulai di hasut dandicekoki oleh pemikiran-pemikiran sekularis yang kita tahu sendiri bahwa mereka berprospek pada keduniaan yang memabukan dan menjerumuskan. Umat muslim Indonesia kini telah banyak yang beralih ke arah liberalis dan berpaling dari tujuan utamanya. Pengetahuan akan ajaran Islam yang masih standar membuat mereka sangat labil dan mudah terbius oleh aroma keduniawian yang di ciptakan oleh pengikut aliran liberal, kaum muslim seolah dibuat sadar bahwa dirinya seorang muslim namun dibalik itu semua, mereka membuat background penutup sebagai wadah untuk memasukan ajaran mereka. Satu hal lagi yang sangat miris adalah ketika kaum muslim meneriakan ucapan tauhid dalam rangka untuk memprotes pemerintahan dengan cara yang anarki, membakar ban, merobohkan pagar, dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan aturan yang ada, seolah-seolah slogan ke-tauhidan adalah perusakan dan pelampiasan. Sungguh inilah gambaran yang kini tengah melanda umat muslim khususnya di Indonesia.
Islam telah hadir dengan membawa cahaya penerang kehidupan sejak manusia pertama kali menginjakan kaki di tanah bumi ini. Dengan ajarannya yang menenangkan hati, dan menggugah jiwa, membuat siapapun yang mempelajarnya dan memperoleh hikmah serta rahmad dari-Nya, tak akan pernah mau berlepas diri dan berpaling dari-Nya. Islam juga telah menorehkan lembaran terbaiknya untuk manusia, karen Islam adalah agama yang tinggi dan tak ada yang menyamai ketinggiannya, “Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih”. Allah-lah yang memberikan agama ini untuk manusia, ya untuk manusia. Dimana ketika seorang manusia telah terkait hatinya, dan terpatri jiwanya kepada Islam, maka disanalah letak keberadaan manusia yang hakiki. Karena pada hakikatnya manusia diciptakan dengan hati yang penuh akan nuansa kebenaran dan kebaikan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akan kehadiran hati dan perasaan di dalamnya, karena apapun yang diperbuatnya sebagai amal kebajikan namun tanpa disertai hati didalamnya tetaplah amal itu tidak akan berpengaruh pada dirinya. Hati adalah salah satu sebab manusia di bedakan dari makhluk ciptaan-Nya yang lain, karena hati adalah reseptor cahaya iahi. Hati bagaikan sebuah mutiara kehidupan, sebuah cahaya kemenangan, yang menerangi diri dan orang di sekitarnya. Maka hidupkanlah hati dan jiwa seorang Ikhwanul Muslimin, yang terus bergerak menggapai rido-Nya, dan terus mencari hikmah di setiap lembar kehidupan.
“hidupnya hati adalah hidupnya muslim sejati”
Motivasi Akh Heru

