Motivasi Akh Heru
Islam hadir bukan karena adanya sebuah tuntutan ataupun keterpaksaan, namun Islam hadir karena sudah digariskan dalam untaian pita zaman, sebagai pembatas dan penuntun kita kepada jalan yang haq dan lurus. Islam pun hadir pula karena sebuah kebenaran yang sebenarnya telah dibuktikan pada awal penciptaan manusia dan bukti itupun telah ada pada awal mula turunnya ayah handa kita seluruh umat manusia Nabi Adam as. Nabi Adam as pun telah mengakui bahwa dalam dirinya ada seorang pembawa pesan besar, pengubah nasib seluruh bumi, dan penerang alam semesta, yaitu Rasulullah SAW. Dia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Namun sebagian dari manusia mendustakannya.
Setiap manusia diciptakan dari bahan yang begitu menjijikan dan sangat hina. Nutfah, begitulah orang menyebutnya, namun dibalik kehinaannya Allah hadirkan sebagian darinya untuk mendampingi makhluk ciptaannya itu dengan meniupkan ruh dan hati yang merupakan bahan suci lagi bersih. Allah adalah raja diraja, dewanya para dewa, dan sesembahan yang paling tinggi lagi berkuasa atas segala-galanya tanpa terkecuali. Dan di balik ke-Mahakuasaannya itu Allah juga menghadirkan nafsu dan syetan sebagai musush yang nyata bagi manusia, bagaimana mungkin manusia dapat lolos dari dua musuh besar yang senantiasa ada dan mendampingi kita sebagai manusia hingga hari akhir nanti? Iman dan Islam, itulah jawaban atas segala kegelisahan ini, tanpa kedua hal tersebut, manusia tak akan mungkin mampu mengalahkan kedua musush besar itu.
Muslim, seseorang yang senantiasa dan selalu taat kepada perintahnya, keistiqomahan dan kerendahan hari hanya kita tujukan pada-Nya, segala amal dan kebaikan yang kita buat hanya kita persembahkan untuk-Nya, setiap kegelisahan dan kelemahan hati hanya kita curahkan kepada-Nya. Adakah seseorang yang mempu dan mau menangani itu semua selain dari pada-Nya? Tentu tidak ada, Karena seorang muslim bergerak atas dasar kepahaman, dan islam adalah agama yang mengajarkan kepahaman dan keilmiahan, karena bukanlah agama jika tidak masuk akal, walaupun memag ada hal-hal yang tidak mampu kita terjemahkan dengan logika selain kepahaman yang Rasulullah berikan, dan memang hanyalah Allah sang pemilik segala pengetahuan yang ada di langit, bumi, dan seisinya.
Teman, satu hal yang hingga saat ini selalu aku pikirkan adalah mengapa mereka yang mengaku dan menganggap diri mereka islam tidak jua segera melaksanakan perintah dan segera pula meninggalkan larangan-Nya? Apakah itu yang disebut beriman? Sangat ironi memang, dimana Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia tidak mampu menjalankan syariat Islam sendiri secara kaffah dan Shikah. Mereka seolah hanya menganggap agama hanya sebagai hiasan dan pajangan untuk memantaskan diri bahwa dirinya termasuk muslim, mereka hanya menganalogikan agama sebagai rangkaian kata yang diucapkan melalui lisan tanpa ada perlakuan lebih untuk menjalankan syariatnya. Apakah seperti ini muslim modern? Ataukah ini Islam yang baru? Astagfirullah, ini bukanlah Islam yang modern atau bahkan Islam yang baru, namun ini adalah kemunafikan yang sangat jelas dan tampak nyata, hingga kini malah menjadi sebuah tatanan kehidupan salah namun merajalela.
Dunia yang semakin lama semakin labil ini membuat kaum muslim semakin kualahan dan mencerai-beraikan umatnya. Setiap jengkal kehidupan yang terdeskripsikan dalam sebuah tindakan telah terkontaminasi oleh budaya jahiliah, setiap unsur kebaikan dan kesucian yang menjadi budaya Islam lambat laun semakin terkikis dan tergrogoti oleh manisnya toksin budaya orang kafir. Dimana ideologi sang Muslim? Dimana kejayaan dan kebesaran Islam? Coba kita renungkan hal ini, dengan berbagai paham dan pikiran yang kini semakin tidak karuan, apakah kita rela Islam rapuh dan terobang-ambing dalam derasnya arus konspirasi dunia? Apakah kita sebagai umat Islam rela jika dunia ini merampas keberan yang hakiki? Tentu saja tidak. Kita Sebagai umat Muslim sudah seharusnya menjadi Al-Furqan atas yang haq dan yang batil, kita juga harus mengkaliberasi ulang senjata kita (Syahadad 'ain) dengan sebaik-baiknya.
Mungkinkah ini yang telah Allah gariskan? Ataukah ini memang hukum alam? Wallahhu alam bissowab. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang istiqomah dan calon penghuni surga-Nya kelak. Aamiin.
By: Admin
Setiap manusia diciptakan dari bahan yang begitu menjijikan dan sangat hina. Nutfah, begitulah orang menyebutnya, namun dibalik kehinaannya Allah hadirkan sebagian darinya untuk mendampingi makhluk ciptaannya itu dengan meniupkan ruh dan hati yang merupakan bahan suci lagi bersih. Allah adalah raja diraja, dewanya para dewa, dan sesembahan yang paling tinggi lagi berkuasa atas segala-galanya tanpa terkecuali. Dan di balik ke-Mahakuasaannya itu Allah juga menghadirkan nafsu dan syetan sebagai musush yang nyata bagi manusia, bagaimana mungkin manusia dapat lolos dari dua musuh besar yang senantiasa ada dan mendampingi kita sebagai manusia hingga hari akhir nanti? Iman dan Islam, itulah jawaban atas segala kegelisahan ini, tanpa kedua hal tersebut, manusia tak akan mungkin mampu mengalahkan kedua musush besar itu.
"Muslim sejati bukanlah yang selalu mementingkan akhirat dan meninggalkan dunia, namun muslim sejati adalah yang mampu menyeimbangkan antara keduanya"
Motivasi Akh Heru
Muslim, seseorang yang senantiasa dan selalu taat kepada perintahnya, keistiqomahan dan kerendahan hari hanya kita tujukan pada-Nya, segala amal dan kebaikan yang kita buat hanya kita persembahkan untuk-Nya, setiap kegelisahan dan kelemahan hati hanya kita curahkan kepada-Nya. Adakah seseorang yang mempu dan mau menangani itu semua selain dari pada-Nya? Tentu tidak ada, Karena seorang muslim bergerak atas dasar kepahaman, dan islam adalah agama yang mengajarkan kepahaman dan keilmiahan, karena bukanlah agama jika tidak masuk akal, walaupun memag ada hal-hal yang tidak mampu kita terjemahkan dengan logika selain kepahaman yang Rasulullah berikan, dan memang hanyalah Allah sang pemilik segala pengetahuan yang ada di langit, bumi, dan seisinya.
Teman, satu hal yang hingga saat ini selalu aku pikirkan adalah mengapa mereka yang mengaku dan menganggap diri mereka islam tidak jua segera melaksanakan perintah dan segera pula meninggalkan larangan-Nya? Apakah itu yang disebut beriman? Sangat ironi memang, dimana Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia tidak mampu menjalankan syariat Islam sendiri secara kaffah dan Shikah. Mereka seolah hanya menganggap agama hanya sebagai hiasan dan pajangan untuk memantaskan diri bahwa dirinya termasuk muslim, mereka hanya menganalogikan agama sebagai rangkaian kata yang diucapkan melalui lisan tanpa ada perlakuan lebih untuk menjalankan syariatnya. Apakah seperti ini muslim modern? Ataukah ini Islam yang baru? Astagfirullah, ini bukanlah Islam yang modern atau bahkan Islam yang baru, namun ini adalah kemunafikan yang sangat jelas dan tampak nyata, hingga kini malah menjadi sebuah tatanan kehidupan salah namun merajalela.
Dunia yang semakin lama semakin labil ini membuat kaum muslim semakin kualahan dan mencerai-beraikan umatnya. Setiap jengkal kehidupan yang terdeskripsikan dalam sebuah tindakan telah terkontaminasi oleh budaya jahiliah, setiap unsur kebaikan dan kesucian yang menjadi budaya Islam lambat laun semakin terkikis dan tergrogoti oleh manisnya toksin budaya orang kafir. Dimana ideologi sang Muslim? Dimana kejayaan dan kebesaran Islam? Coba kita renungkan hal ini, dengan berbagai paham dan pikiran yang kini semakin tidak karuan, apakah kita rela Islam rapuh dan terobang-ambing dalam derasnya arus konspirasi dunia? Apakah kita sebagai umat Islam rela jika dunia ini merampas keberan yang hakiki? Tentu saja tidak. Kita Sebagai umat Muslim sudah seharusnya menjadi Al-Furqan atas yang haq dan yang batil, kita juga harus mengkaliberasi ulang senjata kita (Syahadad 'ain) dengan sebaik-baiknya.
Mungkinkah ini yang telah Allah gariskan? Ataukah ini memang hukum alam? Wallahhu alam bissowab. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang istiqomah dan calon penghuni surga-Nya kelak. Aamiin.
By: Admin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar